BONE, KABARBONE COM – Perkembangan teknologi digital telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk cara mahasiswa memperoleh informasi dan pengetahuan.
Jika dahulu buku dan perpustakaan menjadi sumber utama belajar, kini media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube semakin banyak digunakan untuk mencari informasi, materi kuliah, hingga wawasan umum.
Fenomena ini terlihat di berbagai perguruan tinggi. Banyak mahasiswa mengaku lebih sering mencari informasi melalui video singkat dibandingkan membaca buku atau artikel ilmiah yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dipahami.
Kemudahan akses, penyajian yang menarik, serta durasi yang singkat menjadi alasan utama media sosial semakin diminati.
Salah seorang mahasiswa mengungkapkan bahwa ia sering memanfaatkan TikTok untuk memahami materi perkuliahan yang dianggap sulit.
Menurutnya, penjelasan dalam bentuk video lebih mudah dipahami karena disampaikan secara ringkas dan disertai ilustrasi yang menarik.
Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul berbagai tantangan yang berkaitan dengan literasi mahasiswa.
Beberapa dosen menilai bahwa kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat dapat memengaruhi kemampuan mahasiswa dalam membaca, menganalisis, dan memahami informasi secara mendalam.
Tidak sedikit mahasiswa yang mengetahui suatu topik secara umum, tetapi mengalami kesulitan ketika diminta menjelaskan secara rinci atau mengaitkannya dengan teori akademik.
Kondisi ini juga tercermin dari semakin berkurangnya minat mahasiswa untuk mengunjungi perpustakaan.
Di beberapa kampus, ruang baca terlihat lebih sepi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Sebaliknya, mahasiswa lebih banyak mengakses informasi melalui perangkat digital yang mereka miliki.
Meski demikian, media sosial tidak dapat sepenuhnya dianggap sebagai penyebab menurunnya minat baca.
Banyak konten edukatif yang justru membantu mahasiswa memperoleh informasi baru dan memperluas wawasan mereka.
Berbagai akun pendidikan, diskusi ilmiah, dan konten literasi kini hadir dengan format yang lebih menarik sehingga mampu menjangkau lebih banyak kalangan.
Menurut pengamat pendidikan, tantangan terbesar saat ini bukanlah keberadaan media sosial, melainkan bagaimana mahasiswa memanfaatkannya secara bijak.
Informasi yang diperoleh dari media sosial sebaiknya dijadikan sebagai langkah awal untuk memahami suatu topik, kemudian diperdalam melalui buku, jurnal, dan sumber ilmiah lainnya.
Perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam menumbuhkan budaya literasi.
Berbagai program seperti diskusi buku, seminar literasi, pelatihan menulis, dan kegiatan akademik lainnya dapat menjadi sarana untuk meningkatkan minat baca mahasiswa.
Selain itu, dosen diharapkan mampu menghadirkan metode pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk aktif membaca dan berpikir kritis.
Di era digital saat ini, mahasiswa dituntut untuk mampu menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan kebiasaan membaca.
Kecepatan memperoleh informasi memang menjadi keuntungan, tetapi kedalaman pemahaman tetap menjadi hal yang tidak dapat diabaikan.
Oleh karena itu, media sosial dan buku seharusnya tidak dipandang sebagai dua hal yang saling bertentangan, melainkan sebagai sarana yang dapat saling melengkapi dalam proses belajar.
Perubahan zaman telah menghadirkan cara baru dalam memperoleh pengetahuan.
Namun, tujuan pendidikan tetap sama, yaitu membentuk individu yang mampu berpikir kritis, memahami informasi secara mendalam, dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Penulis : Asti
(Mahasiswi Prodi Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Bone)















