BONE, KABARBONE.COM – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, termasuk di lingkungan perguruan tinggi.
Salah satu perkembangan yang kini menjadi perhatian adalah meningkatnya penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) oleh mahasiswa sebagai alat bantu dalam proses belajar.
Saat ini, berbagai platform berbasis AI seperti ChatGPT, Google Gemini, dan Microsoft Copilot semakin sering digunakan mahasiswa untuk mencari referensi, merangkum materi, membantu menyusun tugas, hingga menjawab berbagai pertanyaan akademik.
Kehadiran teknologi ini dinilai memberikan kemudahan karena mampu mempercepat akses informasi dan membantu proses belajar menjadi lebih efisien.
Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, muncul kekhawatiran bahwa penggunaan AI yang berlebihan dapat berdampak pada menurunnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Kemampuan menganalisis, mengevaluasi informasi, dan menyusun argumen secara mandiri dikhawatirkan berkurang apabila mahasiswa terlalu bergantung pada teknologi dalam menyelesaikan tugas akademik.
Dalam dunia pendidikan tinggi, berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan utama yang harus dimiliki mahasiswa.
Kemampuan ini berperan penting dalam membentuk cara berpikir logis, menyelesaikan masalah, serta menghasilkan gagasan yang kreatif dan inovatif.
Ketika proses berpikir mulai digantikan oleh teknologi secara berlebihan, tujuan utama pendidikan dikhawatirkan tidak tercapai secara maksimal.
Fenomena penggunaan AI di kalangan mahasiswa juga memunculkan tantangan baru bagi perguruan tinggi dalam menjaga kualitas pembelajaran.
Banyak akademisi menilai bahwa kampus perlu mulai menyusun pedoman penggunaan AI agar teknologi tersebut dimanfaatkan secara bijak sebagai alat pendukung belajar, bukan sebagai pengganti proses berpikir mahasiswa.
Menurut beberapa pengamat pendidikan, kehadiran AI seharusnya dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, selama penggunaannya tetap dibarengi dengan kesadaran akademik, etika, serta tanggung jawab dalam proses belajar.
Mahasiswa sebagai generasi intelektual masa depan dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan kemampuan dasar yang menjadi fondasi pendidikan, seperti membaca, menulis, berpikir kritis, dan menganalisis persoalan secara mandiri.
Di era digital saat ini, tantangan terbesar bukan lagi sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi bagaimana memanfaatkan teknologi secara cerdas tanpa mengorbankan kualitas berpikir.
Dengan demikian, penggunaan AI dapat menjadi solusi dalam dunia pendidikan, bukan justru menjadi ancaman bagi perkembangan intelektual mahasiswa di masa depan.
Penulis : Widya Maghfira)
(Mahasiswi Prodi Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Bone)










