BONE, KABARBONE.COM – Di Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone, nama Kapolsek IPTU Kamaluddin kian lekat di telinga warga.
Bukan lantaran operasi penertiban atau tindakan represif, melainkan karena empat inovasi humanis yang mulai mengubah budaya keselamatan di daerah pegunungan itu.
Dalam setiap kegiatannya, Kapolsek yang dikenal ramah ini seperti hendak menyampaikan pesan sederhana.
“Polisi bukan untuk ditakuti, tetapi untuk menjadi sahabat perjalanan warga menuju keselamatan,” kata Mantan Kasat Lantas Polres Maros ini kepada redaksi kabarbone.com, Ahad (7/12/2025).
Polisi yang viral di tiktok dengan akun @kamal.wkc /KamalBone ini memang antusias memposting momen ketika sedang menjalankan tugas.
Puncaknya saat ia bertugas sebagai Satgas Kappang saat masih bertugas di Polres Maros.
Tak sedikit pujian ia dapatkan dari para sopir truk. Bahkan tidak jarang para sopir truk merasa terbantu, karena informasi dari polisi perwira ini bisa dijadikan rujukan keberangkatan agat tidak terkena macet saat projek pelebaran di area Camba, Kabupaten Maros berlangsung.
Bahkan saat ini akun tiktok Kamaluddin sudah mencapai 311,4 ribu follower dengan total like (suka) dari vidio yang diposting sebanyak 3,1 juta.
Berikut sejumlah inovasi yang ditelurkan Iptu Kamaluddin:
1. “Sweeping Terbalik Humanis”: Menghentikan untuk Menolong, Bukan Menilang

Di pagi atau sore tertentu, pengendara di Bontocani terkadang dihentikan polisi. Namun alih-alih ditilang, mereka justru dicek kondisi kendaraannya, diingatkan soal keselamatan, bahkan diberi helm gratis jika helm mereka sudah tidak layak pakai.
“Kami bukan cari pelanggar. Kami cari orang yang mau pulang selamat,” ujar IPTU Kamaluddin, kalimat yang belakangan viral di media sosial karena dianggap menyentuh dan menyadarkan banyak orang.
Program ini membuat warga merasa dihargai. Banyak yang mengaku baru pertama kali ‘dihentikan polisi’ tapi justru pulang dengan senyum.
2. “Polsek Masuk Kampung”: Edukasi hingga ke Sawah dan Warkop

Tak menunggu warga datang ke kantor polisi, IPTU Kamaluddin justru mendatangi mereka. Dari dusun terpencil, areal persawahan, hingga warkop kecil di pinggir jalan, ia menghadirkan edukasi keselamatan dalam suasana santai.
Warga menyebut pendekatan ini sebagai “polisi bertamu”, karena terasa begitu dekat dan membumi. Hubungan masyarakat dan aparat pun semakin cair.
3. Edukasi Pelajar dengan Libatkan Orang Tua: Setiap Anak Berhak Pulang Selamat

Tak sedikit kasus di mana anak SMP atau SMA berkendara tanpa SIM karena dorongan lingkungan dan kelonggaran pengawasan. IPTU Kamaluddin menilai persoalan ini tidak bisa hanya diselesaikan dengan razia.
“Kami ingin anak-anak paham keselamatan bukan karena takut polisi, tapi karena ingin kembali ke rumah dengan selamat,” ujarnya.
Melalui pertemuan di sekolah, dialog dengan orang tua, dan kampanye keselamatan yang konsisten, budaya sadar risiko perlahan tumbuh.
4. Patroli Humanis Berbalut Humor: Pesan Serius dengan Cara Ringan
Inovasi lain yang tak kalah menarik adalah patroli humanis yang sering diselipkan humor edukatif. Teguran ringan, candaan khas Bontocani, hingga situasi lucu saat mengingatkan pengendara sering direkam warga dan menjadi viral.
Cara ini bukan hanya membuat pesan keselamatan mudah dicerna, tetapi juga menghapus kesan kaku aparat kepolisian.
5.Membangun Kepercayaan, Menumbuhkan Kesadaran

Keempat inovasi tersebut menjadikan IPTU Kamaluddin sebagai figur polisi humanis yang bekerja dengan hati.
Di tengah tantangan geografis Bontocani yang rawan kecelakaan dan minim fasilitas keselamatan, pendekatan seperti ini dinilai sangat relevan.
Di banyak kesempatan, warga mengatakan bahwa kehadiran polisi kini terasa lebih bersahabat.
Bahkan sejumlah tokoh masyarakat menilai perubahan budaya keselamatan di Bontocani berangkat dari cara Kapolsek menjangkau warganya.
6. Edukasi Warga Melalui Media Sosial

Iptu Kamaluddin memang tidak asing di beranda media sosial khususnya aplikasi tiktok.Tidak untuk mempopulerkan diri, atau berjualan, akan tetapi untuk mendekatkan pelayanan.
Bahkan tidak jarang, masyarakat merasa terbantu atas update informasi yang ia sampaikan melalui kegiatan live atau postingannya di tiktok.
Kata dia, media sosial hari ini sudah menjadi kebutuhan warga. Bahkan tidak sedikit informasi masyarakat dapatkan dari aktivitasnya di media sosial.
“Alhamdulillah banyak yang apresiasi. Meski kadang juga pernah mendapat teguran dari pimpinan. Tapi media sosial bagi saya, banyak membantu pekerjaan saya selaku anggota Polri dan masyarakat banyak merasa terbantu,” ungkapnya.
Dengan inovasinya, IPTU Kamaluddin membuktikan bahwa edukasi, keramahan, dan hubungan yang sehat antara polisi dan masyarakat bisa menjadi fondasi utama keselamatan bersama. (*)















