KABARBONE.COM, BONE – Inovasi dan pendekatan baru dalam kepolisian sering kali menjadi faktor penentu keberhasilan dalam meningkatkan kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum.
Salah satu sosok yang berhasil menciptakan perubahan positif dalam Satuan Lalu Lintas (Polantas) adalah Iptu Kamaluddin , seorang perwira Bugis yang dikenal luas oleh para sopir lintas kabupaten dan provinsi yang bertugas di Polres Maros Polda Sulsel.
Terlepas dari statusnya sebagai anggota baru di jajaran “Kopel Putih” ia telah melahirkan berbagai konsep yang menarik perhatian, termasuk Sweeping Terbalik, Sahabat Polantas, dan Lomba Kritik dan Saran.
Salah satu gebrakan awalnya yang sempat viral di berbagai platform adalah “Sweeping Terbalik” di Polres Palopo.
” Jika sebelumnya razia kendaraan oleh Polantas selalu dianggap sebagai momok bagi pengendara, Iptu Kamal membalik paradigma tersebut dengan memberikan hadiah bagi sopir yang memiliki kelengkapan surat dan patuh aturan,” ungkap Kasat Lantas Polres Maros, Iptu Kamaluddin ditemu di salah satu warkop di Bone, Ahad (4/5/2025).
Kata Iptu Kamal, konsep ini berhasil mengubah perspektif masyarakat terhadap razia lalu lintas dari yang sebelumnya dihindari menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu.
“Tak hanya memperkuat kedisiplinan berlalu lintas, inisiatif ini juga menjadi bukti bahwa penegakan aturan bisa dilakukan dengan pendekatan lebih humanis,” tambahnya lagi.
Pendekatan inovatif lainnya adalah Sahabat Polantas, sebuah konsep yang diterapkan dalam menangani kemacetan kronis di Jalur Kappang.
Selama bertahun-tahun, wilayah ini terkenal dengan antrean panjang yang bisa mencapai 7 hingga 10 jam per hari , terutama ketika proyek perbaikan jalan berlangsung.
Namun, dengan strategi yang digagas oleh Iptu Kamal dan timnya yang berjumlah 10 personel kemacetan berhasil direduksi secara signifikan hingga hanya 1 jam , bahkan terkadang hanya 30 menit.
“Konsep ini tidak hanya mengandalkan pengaturan lalu lintas, tetapi juga membangun kemitraan dengan sopir, menciptakan kesadaran kolektif bahwa kepolisian dan pengguna jalan harus bekerja sama, bukan saling mencari kesalahan,” ungkapnya.
Tidak berhenti di situ, Iptu Kamal juga menghadapi kritik dengan pendekatan yang unik.
“Jika banyak pejabat cenderung menghindari kritik, ia justru membuat kompetisi Lomba Kritikan dan Saran sebagai sarana menerima masukan dari masyarakat,” jelasnya lagi.
Kata dia, dengan membuka ruang diskusi ini, ia menunjukkan bahwa kepolisian bukanlah institusi yang tertutup, tetapi bisa berkembang dengan mendengar aspirasi masyarakat.
Pendekatan ini mengubah kritik dari sekadar keluhan menjadi sumber perbaikan layana terutama dalam aspek lalu lintas yang masih jauh dari kata sempurna.
Iptu Kamaluddin juga secara terbuka menyatakan bahwa inovasi yang ia lakukan bukan untuk mencari pengakuan pribadi, tetapi sebagai bagian dari upaya memperbaiki kepercayaan masyarakat terhadap Polantas.
Ia menyebut bahwa keberhasilan konsep yang ia buat bukanlah klaim dirinya, tetapi berasal dari pengakuan langsung para sopir yang merasakan dampaknya.
Sikap rendah hati ini semakin memperkuat citranya sebagai sosok yang fokus pada solusi konkret, bukan sekadar wacana.
Ia juga menegaskan bahwa setiap konsep baru dalam kepolisian tidak selalu berjalan mulus. Tantangan dari lingkungan kerja dan berbagai penilaian dari rekan sejawat menjadi bagian dari dinamika yang harus dihadapi.
Namun, baginya yang terpenting adalah apakah kebijakan yang diterapkan memiliki manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia bahkan dengan santai menyebut bahwa jabatan hanyalah sementara—hari ini diberikan, besok bisa digantikan oleh orang lain.
Filosofi ini menunjukkan bahwa baginya, yang lebih penting bukanlah posisi, tetapi dampak yang diciptakan bagi publik.
Terobosan baru juga terus ia persiapkan, termasuk konsep lomba unik yang akan mengubah pola pikir masyarakat terkait kepolisian.
“Jika selama ini balap motor identik dengan kecepatan, kami berencana membuat Lomba Sepeda Motor Lambat. Sebuah ajang kompetisi yang menantang pengendara untuk mempertahankan keseimbangan dan kesabaran dalam berkendara. Konsep ini berangkat dari refleksi bahwa keselamatan di jalan sering kali lebih berkaitan dengan kehati-hatian daripada kecepatan,” katanya.
Pendekatan unik dan kreatif dari Polantas Bugis ini membuktikan bahwa kepolisian bisa lebih dari sekadar penegak hukum—mereka bisa menjadi mitra, pendamping, dan sahabat masyarakat. .
Dengan konsep yang terus berkembang, Iptu Kamal telah membuka peluang baru dalam *
transformasi kepolisian, menegaskan bahwa inovasi tidak harus selalu berbasis sanksi, tetapi bisa tumbuh melalui kesadaran dan kolaborasi.
“Jika pendekatan seperti ini bisa diterapkan lebih luas, maka bukan mustahil citra kepolisian akan semakin dekat dengan masyarakat, bukan sebagai institusi yang ditakuti, tetapi sebagai pelindung yang benar-benar memahami kebutuhan rakyat,” tutup Mantan Kapolsek Tellu Limpoe Polres Bone ini.(*)















