Hari Jadi Kota Makassar ke-418 yang diperingati tahun ini bukan sekadar penanda usia dalam hitungan kalender sejarah. Ia adalah momentum kolektif untuk menengok kembali akar peradaban kota ini, sekaligus mengukur arah langkah kita di masa depan.
Di usia yang nyaris lima abad, Makassar telah menempa dirinya sebagai kota pelabuhan yang strategis, ruang perjumpaan lintas bangsa, dan pusat perdagangan di kawasan timur Nusantara.
Identitas historis inilah yang menjadi fondasi bagi Makassar untuk terus tumbuh sebagai kota dengan karakter kuat: terbuka, tangguh, dan berorientasi maritim.
Sejarah mencatat bahwa Makassar tidak tumbuh dalam ruang kosong. Kerajaan Gowa-Tallo, kejayaan pelabuhan Somba Opu, serta jejak perlawanan Sultan Hasanuddin menjadi bukti bahwa Makassar sejak awal adalah ruang dialektika budaya dan kekuatan geopolitik.
Nilai-nilai keberanian, kemandirian, dan daya juang telah mendarah daging dalam identitas masyarakatnya. Spirit kosmopolitan itulah yang kemudian menjadikan Makassar sebagai simpul konektivitas ekonomi dan sosial sejak abad ke-16 hingga kini.
Namun, memasuki abad ke-21, lanskap tantangan global berubah wajah. Urbanisasi yang masif, digitalisasi layanan publik, krisis iklim, hingga disrupsi ekonomi menuntut Makassar beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Kota ini bukan lagi hanya pusat perdagangan fisik, tetapi harus berubah menjadi pusat pengetahuan, inovasi, dan ekonomi kreatif.
Di sinilah pentingnya mengartikulasikan kembali “Makassar sebagai kota maritim modern” bukan hanya dalam jargon, tetapi dalam kebijakan konkret dan tata kelola yang berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, falsafah lokal sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge perlu dimaknai bukan sekadar etika sosial, tetapi sebagai asas kepemimpinan dan pelayanan publik.
Pembangunan fisik tanpa sentuhan kemanusiaan hanya akan menghasilkan kota yang besar, tetapi tidak membahagiakan penduduknya.
Maka, kebijakan pembangunan Makassar ke depan harus berorientasi pada kota yang inklusif, di mana ekonomi tumbuh, tetapi kesenjangan berkurang; infrastruktur dibangun, tetapi budaya tetap hidup; kota berkembang, tetapi lingkungan tetap lestari.
Tantangan nyata yang dihadapi Makassar hari ini tidak sederhana. Pertumbuhan penduduk yang cepat perlu dijawab dengan tata ruang cerdas, transportasi publik yang efisien, dan manajemen sampah yang modern.
Sebagai kota pesisir, ancaman abrasi, banjir rob, serta kenaikan permukaan air laut harus dipandang sebagai isu strategis, bukan sekadar insiden musiman. Jika Makassar ingin tetap menjadi kota pelabuhan dunia, maka ketahanan ekologi pesisir adalah bagian dari pertahanan peradaban.
Selain itu, Makassar memiliki peluang besar dalam sektor ekonomi kreatif, pariwisata bahari, dan digitalisasi layanan publik. Perpaduan antara sejarah maritim, kuliner khas seperti coto dan pallubasa, tradisi pelayaran, hingga destinasi seperti Losari dan Kepulauan Spermonde adalah modal branding internasional.
Yang dibutuhkan adalah tata kelola destinasi yang profesional dan narasi kota yang kuat—bahwa Makassar bukan hanya kota untuk dikunjungi, tetapi kota untuk dipelajari.
Pendidikan tinggi di Makassar juga harus menjadi motor transformasi. Kampus-kampus di kota ini, termasuk UMI, Unhas, dan perguruan tinggi lainnya, perlu mengambil peran dalam riset kemaritiman, tata kota, hukum lingkungan, hingga inovasi digital. Kota dunia tidak hanya dibangun dengan beton dan jalan layang, melainkan dengan gagasan, SDM unggul, dan jejaring ilmiah yang diperkuat secara berkelanjutan.
Pertanyaan mendasar kemudian muncul: apakah pembangunan selama ini telah berjalan seimbang? Apakah wajah Kota Makassar yang baru tetap memberi ruang bagi lorong-lorong tua, pelaku UMKM, komunitas budaya, nelayan, dan warga pesisir? Hari jadi kota ini seharusnya menjadi ruang evaluasi kebijakan, bukan sekadar perayaan simbolik.
Kota yang besar adalah kota yang adil. Kota yang maju adalah kota yang setia pada warganya.
Dalam umur 418 tahun, Makassar bukan lagi sekadar kota, tetapi simbol keberlanjutan identitas. Ia ditantang untuk membuktikan bahwa modernitas tidak harus menghapus tradisi, bahwa globalisasi tidak harus menghilangkan kearifan lokal, dan bahwa kemajuan fisik harus berjalan berdampingan dengan kesejahteraan sosial.
Selamat Hari Jadi ke-418 Kota Makassar. Semoga kita semua, sebagai pewaris sejarah dan pemilik masa depan, mampu menjadikan Makassar sebagai kota yang cerdas secara teknologi, maju secara ekonomi, beradab secara budaya, dan kokoh secara moral. Makassar tetap “Kota Daeng”, tempat laut, nilai, dan manusia bertemu dalam harmoni. (***)
.















