OPINI

Makassar 418 Tahun: Meneguhkan Identitas Maritim, Menyongsong Kota Dunia

810
×

Makassar 418 Tahun: Meneguhkan Identitas Maritim, Menyongsong Kota Dunia

Sebarkan artikel ini

Dr. Hardianto Djanggih,S.H., M.H. Dosen Fakultas Hukum, Universitas Muslim Indonesia

Hari Jadi Kota Makassar ke-418 yang diperingati tahun ini bukan sekadar penanda usia dalam hitungan kalender sejarah. Ia adalah momentum kolektif untuk menengok kembali akar peradaban kota ini, sekaligus mengukur arah langkah kita di masa depan.

Di usia yang nyaris lima abad, Makassar telah menempa dirinya sebagai kota pelabuhan yang strategis, ruang perjumpaan lintas bangsa, dan pusat perdagangan di kawasan timur Nusantara.

Identitas historis inilah yang menjadi fondasi bagi Makassar untuk terus tumbuh sebagai kota dengan karakter kuat: terbuka, tangguh, dan berorientasi maritim.

Sejarah mencatat bahwa Makassar tidak tumbuh dalam ruang kosong. Kerajaan Gowa-Tallo, kejayaan pelabuhan Somba Opu, serta jejak perlawanan Sultan Hasanuddin menjadi bukti bahwa Makassar sejak awal adalah ruang dialektika budaya dan kekuatan geopolitik.

Nilai-nilai keberanian, kemandirian, dan daya juang telah mendarah daging dalam identitas masyarakatnya. Spirit kosmopolitan itulah yang kemudian menjadikan Makassar sebagai simpul konektivitas ekonomi dan sosial sejak abad ke-16 hingga kini.

Namun, memasuki abad ke-21, lanskap tantangan global berubah wajah. Urbanisasi yang masif, digitalisasi layanan publik, krisis iklim, hingga disrupsi ekonomi menuntut Makassar beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

Kota ini bukan lagi hanya pusat perdagangan fisik, tetapi harus berubah menjadi pusat pengetahuan, inovasi, dan ekonomi kreatif.

Di sinilah pentingnya mengartikulasikan kembali “Makassar sebagai kota maritim modern” bukan hanya dalam jargon, tetapi dalam kebijakan konkret dan tata kelola yang berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, falsafah lokal sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge perlu dimaknai bukan sekadar etika sosial, tetapi sebagai asas kepemimpinan dan pelayanan publik.

Pembangunan fisik tanpa sentuhan kemanusiaan hanya akan menghasilkan kota yang besar, tetapi tidak membahagiakan penduduknya.

Maka, kebijakan pembangunan Makassar ke depan harus berorientasi pada kota yang inklusif, di mana ekonomi tumbuh, tetapi kesenjangan berkurang; infrastruktur dibangun, tetapi budaya tetap hidup; kota berkembang, tetapi lingkungan tetap lestari.

Tantangan nyata yang dihadapi Makassar hari ini tidak sederhana. Pertumbuhan penduduk yang cepat perlu dijawab dengan tata ruang cerdas, transportasi publik yang efisien, dan manajemen sampah yang modern.

Sebagai kota pesisir, ancaman abrasi, banjir rob, serta kenaikan permukaan air laut harus dipandang sebagai isu strategis, bukan sekadar insiden musiman. Jika Makassar ingin tetap menjadi kota pelabuhan dunia, maka ketahanan ekologi pesisir adalah bagian dari pertahanan peradaban.

Selain itu, Makassar memiliki peluang besar dalam sektor ekonomi kreatif, pariwisata bahari, dan digitalisasi layanan publik. Perpaduan antara sejarah maritim, kuliner khas seperti coto dan pallubasa, tradisi pelayaran, hingga destinasi seperti Losari dan Kepulauan Spermonde adalah modal branding internasional.

Yang dibutuhkan adalah tata kelola destinasi yang profesional dan narasi kota yang kuat—bahwa Makassar bukan hanya kota untuk dikunjungi, tetapi kota untuk dipelajari.

Pendidikan tinggi di Makassar juga harus menjadi motor transformasi. Kampus-kampus di kota ini, termasuk UMI, Unhas, dan perguruan tinggi lainnya, perlu mengambil peran dalam riset kemaritiman, tata kota, hukum lingkungan, hingga inovasi digital. Kota dunia tidak hanya dibangun dengan beton dan jalan layang, melainkan dengan gagasan, SDM unggul, dan jejaring ilmiah yang diperkuat secara berkelanjutan.

Pertanyaan mendasar kemudian muncul: apakah pembangunan selama ini telah berjalan seimbang? Apakah wajah Kota Makassar yang baru tetap memberi ruang bagi lorong-lorong tua, pelaku UMKM, komunitas budaya, nelayan, dan warga pesisir? Hari jadi kota ini seharusnya menjadi ruang evaluasi kebijakan, bukan sekadar perayaan simbolik.

Kota yang besar adalah kota yang adil. Kota yang maju adalah kota yang setia pada warganya.
Dalam umur 418 tahun, Makassar bukan lagi sekadar kota, tetapi simbol keberlanjutan identitas. Ia ditantang untuk membuktikan bahwa modernitas tidak harus menghapus tradisi, bahwa globalisasi tidak harus menghilangkan kearifan lokal, dan bahwa kemajuan fisik harus berjalan berdampingan dengan kesejahteraan sosial.

Selamat Hari Jadi ke-418 Kota Makassar. Semoga kita semua, sebagai pewaris sejarah dan pemilik masa depan, mampu menjadikan Makassar sebagai kota yang cerdas secara teknologi, maju secara ekonomi, beradab secara budaya, dan kokoh secara moral. Makassar tetap “Kota Daeng”, tempat laut, nilai, dan manusia bertemu dalam harmoni. (***)
.

Baca Juga  Keuangan Publik Islam di Kabupaten Bone
OPINI

Oleh: Andi Muzakkir Aqil, SH., MH / Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat Narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya tidak hanya merusak individu, tapi juga mengoyak keberdayaan kolektif anak negeri. Mereka yang tersekap adiksi tak cuma kehilangan potensi. Dalam skala makro, fenomena ini berpotensi memutus mata rantai inovasi bangsa sekaligus merapuhkan narasi besar tentang Indonesia Emas 2045.  Maka sangat beralasan bila investasi negara pada generasi bangsa tidak melulu urusan bangku sekolah. Menjauhkan mereka dari jerat narkoba adalah investasi tak kalah penting di tengah penetrasi jaringan narkoba transnasional yang menunggangi kemajuan teknologi digital. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Badan Narkotika…

EDUKASI

Penulis: Zainal Ibrahim, S.Pd., MM. (Ketua PGRI Kecamatan Awangpone) Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Hijriah, melainkan momen spiritual yang mengajak kita untuk merefleksikan diri dan memulai langkah baru yang lebih bermakna. Bagi kaum pelajar, khususnya generasi muda bangsa, Muharram menjadi pengingat penting bahwa pendidikan dan karakter adalah fondasi utama dalam membangun peradaban yang unggul. Hijrah Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah bukan semata perpindahan fisik, tetapi simbol transformasi menuju kondisi yang lebih baik: dari penindasan menuju kebebasan, dari ketidakadilan menuju keadilan. Semangat hijrah ini dapat di internalisasi dalam dunia pendidikan dengan mendorong…

OPINI

Penulis: ABDUL RAHIM,S.Pd.,M.Pd. (Ketua Forum Pemuda Tani Indonesia Kab. Bone) Indonesia sebagai salah satu negara yang termasuk dalam wilayah tropis memiliki potensi pertanian yang sangat baik. Sebagai negara agraria, Indonesia memiliki potensi yang besar dan sumber daya alam yang melimpah dalam produk pertanian. Pertanian merupakan salah satu sektor yang berperan besar dalam perekonomian Indonesia, tak terkecuali untuk perekonomian di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Di mana sebagian besar masyarakatnya bertumpu pada sektor ini. Kontribusi sektor pertanian sangat berpengaruh terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional yang memberikan pendapatan bagi sebagian besar rumah tangga Indonesia. Menyerap 35,9% dari total angkatan kerja dan menyumbang 14,7% bagi GNP Indonesia…

OPINI

Judul di atas merupakan headline Tema Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2025 yang ke-79 sekaligus peraayaan kelahiran organisasi pers tertua di Indonesia yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang tahun ini diselenggarakan di Ibu Kota Kalimantan Selatan, Banjarmasin dengan Sub Tema HPN 2025 yakni lokal “Kalsel Gerbang Logistik Kalimantan”. Pengusungan tema nasional di peringatan HPN tahun ini tentu tidak lahir begitu saja, akan tetapi sarat makna historis bahwa pers memiliki peran kunci dalam perjalanan bangsa ini. Tidak hanya diawal memproklamirkan kemerdekaan republik ini, namun pers memiliki posisi strategis dalam mendukung program pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan bangsa. Pers sebagai pilar demokrasi…

OPINI

Penulis : Nurfadilah Jurusan : Ekonomi Syariah Kelompok 3 Mahasiswa Semester : 7 Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Bone Di tengah hamparan sawah yang menghijau dan deretan rumah panggung khas Bugis yang menjulang, Kabupaten Bone menyimpan potensi besar dalam pengembangan keuangan publik Islam. Daerah yang dikenal sebagai bekas Kerajaan Bone ini, dengan warisan budaya dan nilai-nilai keislaman yang kuat, memiliki fondasi kokoh untuk mengimplementasikan sistem keuangan yang berlandaskan syariah. Bone, dengan populasi Muslim yang dominan dan kultur masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai agama, sesungguhnya telah lama mengenal konsep keuangan publik Islam. Tradisi “mappasidekkah” atau bersedekah, yang telah mengakar…

DAERAH

BONE – Terpilihnya H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos, MM dan Dr H. Andi Akmal Pasluddin, SP., MM menjadi Bupati dan Wakil Bupati Bone Sulawesi Selatan Periode 2024-2029 menjadi tonggak baru pemerintahan di Kabupaten Bone. Gegap gempita pesta demokrasi, Pilkada Bone 2024 telah membuktikan bahwa pasangan dengan tagline BerAmal ini menjadi harapan baru di tanah beradat, daerah yang berjuluk Bumi Arung Palakka. Masyarakat tentunya menitip harapan perubahan, kemajuan agar bisa terwujudnya Harapan Gemilang dalam mewujudkan Masyarakat Bone yang Berdaya, Ramah, Maju dan Akuntabel (BERAMAL), Bone yang Lebih Baik, Bone Maberre (Mandiri, Berkeadilan dan Berkelanjutan). Untuk mewujudkan BONE BERAMAL, maka dibutuhkan langkah…

OPINI

Suatu waktu penulis bertemu dengan teman lama. Ia bukan orang lain, tapi teman akrab satu sekolah yang lama baru ketemu kembali. Seperti lazimnya orang berteman dan lama baru ketemu, tentu banyak menguliti pertanyaan kabar, pekerjaan, hingga pertanyaan sudah berkeluarga atau sudah punya anak berapa. Memang pertanyaan ini kadang susah dihindari, entah motifnya ingin benar-benar tahu keadaan temannya atau hanya ingin memastikan bahwa teman saya ini sudah berhasil atau sudah punya keluarga atau sudah sukses. Singkat cerita saya bertanya ke dia “Kemana aja selama ini bro ? Kamu sekarang sukses ya? Kerja apa sekarang ? Sudah punya anak berapa sekarang? Tanyaku…

OPINI

Oleh: ANDI MIFTAHUL AMRI Bakal Calon Kandidat Ketua Umum HMI Cabang Bone Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai salah satu organisasi mahasiswa yang berpengaruh di Indonesia, menghadapi tantangan yang semakin kompleks dalam menghadapi dinamika sosial dan politik saat ini. Dengan kemajuan teknologi yang cepat, perubahan sosial yang dinamis, serta tantangan internal seperti perpecahan dan perbedaan pendapat, HMI memerlukan pendekatan baru untuk menjaga keberlanjutan dan relevansinya. Pendekatan restoratif yang berfokus pada prinsip-prinsip rekonsiliasi dapat menjadi kunci dalam memperkuat kader dan organisasi. Saat ini, HMI menghadapi isu-isu seperti konflik internal yang kadang meruncing, kurangnya komunikasi yang efektif antara berbagai tingkat kepengurusan, dan tantangan…