KABARBONE.COM, BONE – Perkembangan teknologi e-comerse (belanja online) perlahan mulai mematikan usaha pedagang yang ada di Pasar Sentral Palakka, dan Bone Trade Centre (BTC), pusat perbelanjaan tiga lantai yang berada di Jalan Agussalim, Watampone (Eks Pasar Sentral) yang populer di awal tahun 2000-an.
Perilaku konsumen yang mulai condong berbelanja melalui aplikasi online shop ini, adalah salah satu penyebab menurunnya omset para pelaku usaha di dua pusat perbelanjaan di Kabupaten Bone ini, yang mulai terasa oleh pedagang sejak saat wabah Covid-19.
Selain itu, infrastruktur pendukung yang sangat buruk, seperti jalan menuju Pasar Sentral Palakka, mengurangi minat pembeli untuk datang berbelanja.
“Dulu waktu agak bagus jalan di depan itu dan masih kurangnya produk online dalam sehari bisa ka dapat jutaan tapi sekarang untuk baik kalau ada laku satu jualanku,”ungkap Asnur (39) salah satu pedagang di Pasar Palakka, Rabu (2/7/2025).
Asnur mengaku tren pergeseran pembeli dari offline ke online membuat daya beli masyarakat menurun.
“Sekarang kan serba online semua, masyarakat lebih memilih membeli barang diluar, ketimbang melirik yang dari daerahnya,” terangnya.
Ia berharap pemerintah setempat bisa melirik para pelaku UMKM agar kiranya bisa mengembangkan potensi penjualan mereka. .
Hal yang sama juga diungkapkan pedagang di Bone Central Trade (BTC) yang berlokasi di KH Agus Salim, Kelurahan Macege, Kecamatan Tanete Riattang Barat.
Dimana lokasi tersebut pada awal tahun 2000 menjadi tempat favorit warga Kabupaten Bone untuk berbelanja.
Namun, kondisi tersebut perlahan mulai sepi pembeli usai covid-19 melanda. Banyak kios-kios yang perlahan mulai ditinggalkan dan dibiarkan kosong. Bahkan bangunan tiga lantai tersebut, nyaris kosong.
Di BTC sendiri, kondisi pengap dan tidak dilengkapi pendingin ruangan, juga menjadi salah satu faktor banyak pembeli mulai ogah berbelanja di tempat tersebut, disisi lain sewa kios yang terus naik, memaksa sejumlah pedagang pindah lapak, karena tidak sesuai dengan omset yang ia peroleh.
“Disamping tinggi sewa perkiosnya masih lumayan tinggi, kurangnya perawatan juga menjadi salah satu alasan kenapa pusat perbelanjaan di sini mulai ditinggalkan,” ujar salah satu pedagang, Ratna (19).
Ratna mengaku dalam sehari dirinya hanya bisa mendapatkan dua pembeli.
“Biasa dua saja pembeliku sehari kadang juga tidak ada,” akuinya.
“Kadang juga ramai, kalau mendekati hari raya tapi tidak seramai dulu sebelum covid,” jelasnya.
Sementara, Wakil Bupati Bone Andi Akmal Pasluddin berjanji akan mencari solusi terbaik.
Menurutnya, pesatnya persaingan karena kecanggihan teknologi, yang menjadi salah satu penyebab BTC dan Pasar Sentral Palakka sepi pelanggan.
Maka penting bagi para pedagang untuk berkreasi agar bisa tetap bertahan.
“Sekarang memang zamannya online jadi pedagang itu harus juga kreatif, gunakan medsos untuk promosi,” tuturnya.
Andi Akmal pun berjanji akan mendatangkan investor ke Kabupaten Bone guna meningkatkan perekonomian masyarakat.
“Insya Allah kita akan datangkan investor supaya ekonomi masyarakat bisa berkembang.Nanti akan kita perjelas dulu bagaimana ini aturannya soal kepemilikan mall supaya investor tidak ragu nantinya,”pungkasnya. (*)
















