Tumpukan Kendaraan di SPBU Kembali Terjadi di Bone Akibat Pasokan BBM Terlambat, Sopir Ngeluh !

KABARBONE.COM, BONE – Tumpukan kendaraan kembali terjadi di Station Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sejumlah titik di Kota Bone, Sulawesi Selatan.

Antrian kendaraan yang didominasi kendaraan roda empat, mulai dari kendaraan mini bus dan kendaraan bertonase besar seperti truck ini terjadi tiga hari terakhir. Hal ini dipicu lantaran pasokan pengiriman Bahan Bakar Minyak (BBM) terlambat.

Bacaan Lainnya

Dari pantauan kabarbone.com, antrian ini nampak mulai dari halaman SPBU hingga badan jalan raya depan SPBU, Jumat (8/9/2023) kemarin.

Tidak sedikit sejumlah sopir harus antri berjam-jam untuk menunggu pasokan BBM dari Makassar melalui mobil tangki ke sejumlah SPBU.

Nampak juga pengguna roda doa juga rela antri, pasalnya harga BBM jenis pertalite di SPBU dengan harga di pengecer ada selisih harga Rp 2.000 hingga Rp 3.000 / liter.

Pemandangan ini terjadi di SPBU Palakka, SPBU Ahmad Yani, SPBU Jalan Mangga, dan SPBU Boda, Kelurahan Mattirowalie dan SPBU Taccipi, Kecamatan Ulaweng.

“Sebagai masyarakat tentu kita berharap, agar pemerintah bisa turun tangan melihat kondisi ini. Karena jika pasokan BBM terlambat, tentu kami terlambat juga beraktivitas. Sedangkan kami ada target, tentu kita sebagai sopir, tentu kita rugi, karna harus buang-buang waktu berjam-jam hanya untuk antri menunggu BBM,” ungkap seorang sopir kepada kabarbone.com yang enggan dipublikasikan namanya, Jumat (8/9).

Pihak SPBU Sebut Pasokan BBM Terlambat

Staf SPBU Palakka Bu Uli yang coba dikonfirmasi mengatakan jika stok BBM jenis Pertalite tidak ada pengurangan kouta dari pihak Pertamina khusus di SPBU Palakka.

Baca Juga  BBM Langka, Antrian Panjang Kendaraan di SPBU Bone Kembali Terjadi

Antrian panjang kendaraan di SPBU kata dia dikarenakan pasokan BBM dari Makassar ke Bone ada perubahan jadwal dan mengalami keterlambatan.

“Kouta kita tidak ada pengurangan. Kouta kita perhari khusus Fertalite di 14 hingga 16 Kiloliter. Cuma ini ada perubahan jadwal pengiriman dari Pukul 00.00 Wita menjadi pukul 07.00 Wita pagi,” ungkapnya.

Dia pun membantah jika stok BBM langka karena lebih memprioritaskan pembelian jerigen.

“Kouta petani dan nelayan ini kita keluarkan berdasarkan rekomendasi dari dinas terkait. Jadi memang sudah ada kouta, sehingga konsumen umum ini tetap kita layani dan stok tersedia aman,” tepisnya.

Senada dengan Bu Uli, Manajer SPBU Ahmad Yani Sukriadi juga menyebut antrian kendaraan yang menumpuk di SPBU tiga hari terakhir karena pasokan BBM yang terlambat.

“Kouta kita pak khusus Pertalite di SPBU Ahmad Yani itu diangka 16 KL. Jadi stok aman, cuma memang ada keterlambatan pengiriman. Jadi bukan langka, tapi ada perubahan jadwal pengiriman,” ungkapnya saat dihubungi kababrbone.com, Sabtu (9/9/2023).

Pengisian BBM Lewat Jerigen Marak Terjadi

Bisnis Menggiurkan. Nampak petugas SPBU Jalan Mangga, Watampone lebih memprioritaskan pelayanan pembelian BBM pertalite ke jerigen yang menyebabkan kendaraan harus antri panjang. Diduga ada fee mengalir ke setiap petugas SBPU dari oknum mafia BBM setiap pengisian jerigen. Foto: SPBU Jalan Mangga, Bone Jumat (8/8/2023).

Dari penelusuran kabarbone.com di sejumlah SPBU di Bone, praktik pengisian BBM melalui jerigen memang masih subur dan marak terjadi.

Faktanya saat kabarbone.com akan melakukan pengisian bahan bakar jenis Fertalite di SPBU Jalan Mangga Jumat (8/9), petugas SPBU lagi-lagi memprioritaskan pengisian BBM lewat jerigen, sehingga menyebabkan antrian panjang kendaraan roda empat di SPBU.

Dari hasil penelusuran dari berbagai informan, ternyata hal ini dipicu oleh iming-iming fee bagi petugas SPBU yang disiapkan oknum pebisnis BBM Rp.5.000/ jerigen.

Tidak hanya di SPBU Jalan Mangga, pemandangan ini nampak merata di sejumlah SPBU di Bone.

Oknum pebisnis BBM atau mafia BBM ini diduga ada kongkalikong dengan pihak SPBU, dengan backup pihak tertentu yang punya pengaruh sehingga aksi ini sulit diberantas.

Baca Juga  Antrian Panjang Kendaraan di SPBU Palakka dan Ahmad Yani Padat Merayap

Bahkan ada dugaan, pebisnis BBM ini memanipulasi surat rekomendasi dari dinas untuk pengambilan jatah kouta petani dan nelayan di SPBU untuk dijual kembali dengan harga diatas HET (Harga Eceran Tertinggi). (dy)

Pos terkait