Waspada ! Angka Penderita HIV-AIDS di Bone Meningkat

KABARBONE.COM, WATAMPONE -Penyebaran dan penularan HIV AIDS di Kabupaten Bone sangat mengkhawatirkan. Dari tahun ke tahun angka penderita dan angka kematian  mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Dari data Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Bone, dalam kurung waktu lima tahun terakhir ini ada peningkatan penyebaran dan penularannya dari 2016-2020.

2016 sebanyak 24 kasus dan kematian sebanyak 7 penderita. 2017 sebanyak 28 kasus dengan kematian 6 penderita, 2018 terjadi peningkatan yang cukup signifikan yakni 45 dengan kematian sebanyak 16 penderita, 2019 ada 65 kasus dengan kematian 27 penderita dan 2020 ada 75 kasus dan kematian sebanyak 20 penderita.

Total keseluruhan sejak 2016 hingga 2020 jumlah penderita sebanyak 237 dan jumlah kematian sebanyak 76 penderita, dan dari 237 penderita HIV sebanyak 176 penderita dan AIDS sebanyak 61 penderita.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Bupati Bone Ambo Dalle yang juga Ketua Komisi Penaggulangan AIDS Kabupaten Bone saat membuka pertemuan Warga Peduli AIDS Kabupaten Bone yang dihadiri kepala desa dan lurah yang digelar di Hotel Novena, Kamis (28/10/2021).

“Kami menghimbau dan mengharapkan agar semua stakeholder memberikan informasi terkait bahaya HIV AIDS, dan bersama menanggulangi penyebaran dan penularan HIV AIDS di masyarakat,” Imbau Ambo Dalle.

Dilansir dari alodokter, HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Semakin banyak sel CD4 yang dihancurkan, kekebalan tubuh akan semakin lemah, sehingga rentan diserang berbagai penyakit.

Infeksi HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius yang disebut AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS adalah stadium akhir dari infeksi virus HIV. Pada tahap ini, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya.

Sampai saat ini belum ada obat untuk menangani HIV dan AIDS. Akan tetapi, ada obat untuk memperlambat perkembangan penyakit tersebut, dan dapat meningkatkan harapan hidup penderita HIV (ODHA).

Tipe HIV
Virus HIV terbagi menjadi 2 tipe utama, yaitu HIV-1 dan HIV-2. Masing-masing tipe terbagi lagi menjadi beberapa subtipe. Pada banyak kasus, infeksi HIV disebabkan oleh HIV-1, 90% di antaranya adalah HIV-1 subtipe M. Sedangkan HIV-2 diketahui hanya menyerang sebagian kecil individu, terutama di Afrika Barat.

Infeksi HIV dapat disebabkan oleh lebih dari 1 subtipe virus, terutama bila seseorang tertular lebih dari 1 orang. Kondisi ini disebut dengan superinfeksi. Meski kondisi ini hanya terjadi kurang dari 4% penderita HIV, risiko superinfeksi cukup tinggi pada 3 tahun pertama setelah terinfeksi.

Beberapa metode penularan HIV antara lain adalah melalui:

1. Hubungan seks
Penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seksual tanpa kondom, baik itu melalui vagina, anal, maupun seks oral. Selain itu seseorang yang suka berganti-ganti pasangan seksual juga lebih berisiko untuk terkena HIV.

2. Penggunaan jarum suntik
HIV dapat ditularkan melalui jarum suntik yang terkontaminasi darah orang yang terinfeksi HIV. Berbagi pakai jarum suntik atau menggunakan jarum suntik bekas membuat seseorang berisiko sangat tinggi tertular penyakit, termasuk HIV.

3. Kehamilan, persalinan atau menyusui
Seorang ibu yang terinfeksi HIV dan mengandung atau menyusui berisiko tinggi untuk menularkan HIV kepada bayinya. Penting untuk berkonsultasi dengan dokter jika Anda adalah penderita HIV yang tengah hamil agar risiko penularan HIV pada bayi bisa ditekan.

4. Transfusi darah
Dalam sebagian kasus, penularan HIV juga bisa terjadi melalui transfusi darah. Namun, kejadian ini semakin jarang terjadi karena adanya penerapan uji kelayakan donor, termasuk donor darah, organ ataupun donor jaringan tubuh. Dengan pengujian yang layak, penerima donor darah memiliki risiko yang rendah untuk terinfeksi HIV.

HIV dan AIDS di Indonesia
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, selama tahun 2016 terdapat lebih dari 40 ribu kasus infeksi HIV di Indonesia. Dari jumlah tersebut, HIV paling sering terjadi pada pria dan wanita, diikuti lelaki seks lelaki (LSL), dan pengguna NAPZA suntik (penasun). Di tahun yang sama, lebih dari 7000 orang menderita AIDS, dengan jumlah kematian lebih dari 800 orang.

Data terakhir Kemenkes RI menunjukkan, pada rentang Januari hingga Maret 2017 saja sudah tercatat lebih dari 10.000 laporan infeksi HIV, dan tidak kurang dari 650 kasus AIDS di Indonesia. (*)

Tinggalkan Balasan