Menelusuri Jejak Pejuang Kemerdekaan Indonesia dari Tanah Bone

KABARBONE.COM, WATAMPONE – Alhamarhum Purnawirawan Peltu Andi Abdul Hapid, mungkin tidak setenar nama Jenderal Muhammad Yusuf, tokoh pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia, yang merupakan bangsawan Bugis Bone kelahiran Kajuara, Bone, yang pernah menjabat sebagai Panglima ABRI merangkap Menteri Pertahanan dan Keamanan pada periode 1978–1983 diera Presiden Soeharto.

Peltu Andi Abdul Hapid merupakan satu dari sekian pejuang dari Bone yang terlibat langsung dalam peperangan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajah.

Bacaan Lainnya

Wafat pada Maret 1993, almarhum dikuburkan di Makam Pahlawan, Jalan Gatot Subroto, Watampone.

Sebelum bergabung menjadi Tentara Rakyat Indonsia (TRI) nama TNI kala itu, Pria Kelahiran, Lemoape, 15 Oktober 1927 silam ini, bergabung dengan Laksar Sulawesi di bawah pimpinan Kahar Muzakkar pada tahun 1945 untuk berperang gerilya mengusir penjajah.

Dia bersama pejuang dari Sulawesi berangkat ke Jawa untuk bergabung dengan laskar dari daerah lainnya pada usia 17 tahun.

Foto. Almarhum Purnawirawan Peltu Andi Abdul Hafid (tengah) salah satu pejuang kemerdekaan Republik Indonesia asal Bone. (Dok. Pribadi)

Warakawuri (Janda TNI) H. Lapia (80 tahun) isteri dari almarhum Purnawiran Andi Abdul Hafid kepada kabarbone.com menceritakan kisah perjuangan beliau.

“Jadi Bapak itu, bergabung dengan Laskar Sulawesi dan menuju Jawa bersama Kahar Muzakkar dan Jenderal Yusuf. Alhamarhum Bapak, juga seperjuangan dengan Almarhum H. A. Suaib (Mantan Bupati Bone ke-9, red), bahkan sangat akrab. Bapak banyak terlibat peperangan, mulai dari peristiwa arek-arek Suruboyo 10 November 1945 melawan Britaniya Raya, Agresi Militer I 1946 dan Agresi Militer II 1948, dan pemberontakn PKI Madiun,” cerita H. Lapia saat ditemui kabarbone.com, dikediamannya di Desa Panyili, Kecamatan Palakka, Kabupaten Bone, Senin 5 Oktober 2020.

Baca Juga  Presiden: HUT TNI Dirayakan Segenap Rakyat Indonesia

Dijelaskannya lagi, pada saat Agresi Militer II, almarhum purnawirawan Andi Abdul Hapid juga pernah tertembak di kakinya, bahkan juga pernah menjadi tawanan perang bersama Jenderal Yusuf.

Pin Tanda Jasa Kehormatan Almarhum Purnawirawan Peltu Andi Abdul Hafid.

“Semasa beliau hidup, Beliau pernah menceritakan kalau beliau juga pernah kena peluru di kakinya, dan sempat menjadi tawanan Belanda bersama Jenderal Yusuf. Saya masih ingat, Bapak menceritakan saat menjadi tawanan, Jenderal Yusuf tidak pernah mau memakan roti yang diberikan oleh Belanda. Bapak kemudian dibebaskan setelah disepakati perjanjian Renville 1947-1948 antara Belanda dan Indonesia,” cerita H. Lapia

H. Lapia melanjutkan, setelah peperangan melawan Belanda pada Agresi Militer II, Andi Abdul Hapid kemudian kembali ke Sulawesi Selatan, dan memilih bergabung menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) pada tahun 1950, meski sejumlah rekannya termasuk pimpinan Laskar Sulawesi Kahar Muzakkar pada saat itu memilih membentuk Negara Islam dan melakukan pemberontakan karena kecewa atas keputusan pemerintah pusat kala itu.

Piagam Penhargaan yang ditanda tangani langsung Presiden Pertama Indonesia Soekarno kepada Almarhum Purnawiran Andi Abdul Hafid atas dedikasinya melakukan perang gerilya melawan penjajah pada masa perjuangan kemerdekaan RI. (dok)

Almarhum Andi Abdul Hapid, pertama ditugaskan markas 710 Polewali Mandar (Polman), Kemudian pindah di Kodam Hasanuddin XIV Tahun1963 dan pensiun di Ajen Makassar 1965.

“Saya ketemu Bapak pada tahun 1960, dan kemudian menikah. Pada saat itu usia Bapak 35 tahun dan saya 20 tahun,”

“Bapak itu cinta NKRI. Tidak diragukan, dia memilih menjadi TRI, padahal rekan sepejuangan Bapak dari Sulawesi banyak yang memilih memberontak,” ujar Ibu 6 orang anak ini.

Sejumlah dokumen penghargaan dan pin tanda jasa penghormatan peninggalan almarhum juga masih sangat tersimpan rapi oleh H. Lapia.

Mulai dari piagam penghargaan atas dedikasinya perang gerilya yang ditanda tangani langsung Presiden Pertama Indonesia, Soekarno pada tahun 1958,dan penghargaan atas perjuangan pada saat perang pada Agresi Militer I dan II yang ditandatangi Menteri Pertahanan kala itu, Djuanda.

Baca Juga  Begini Kejutan Spesial Danyon C Pelopor kepada Dandim 1407 Bone di Hari Lahir TNI

Saat ini, H. Lapia tinggal bersama anak bungsunya, menantu dan cucunya. Dia mengatakan, sampai saat ini masih menerima dana pensiun dari almarhum suaminya sebesar Rp. 1.200.000/ bulan

“Almarhum Bapak itu orangnya orang keras, disiplin dan jujur. Semasa hidupnya, dia tidak mau mengambil kalau bukan haknya. Itulah yang kemudian ditanamkan kepada anak-anaknya. Sekarang saya masih terima uang pensiun,” ungkapnya.

Piagam penghargaan atas perjuangan pada Agresi Militer I dan Agresi Militer II diberikan pada almarhum. (dok)

Arman, anak bungsu dari pejuang Almarhum Andi Abdul Hafid yang sempat ditemui, mengatakan setiap 5 Oktober, dia selalu menyempatkan siarah ke makam almarhun Bapaknya itu.

“Semasa hidup, almarhum banyak bercerita tentang peperangan yang dia alami. Bapak sosok yang jujur dan bertanggung jawab. Sebagai anak pejuang, kami juga berharap ada perhatian dari pemerintah,” kata Arman. (dy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *